dalam dialog yang mampat itu aku hanya mengulas satu senyuman. senyuman dan senyuman lagi. lebih baik ku gambarkan dan ku ungkapkan lewat senyuman daripada boros dengan lontaran kata-kata yang muaranya jelas pada titik yang sama. konstan.
dalam senyumanku, "aaaaaaaaaaarrrrrrgggggghhhhhhh, bodoh!! aku hanya diperbudak perasaan yang tak berujung pangkal. dimana otakku? wwwwwwooooooooooyyyy, seenaknya dia 'boneka'kan aku sampai begini. jahat! keji! mati saja busuk!."
dan aku tersenyum kembali. dalam senyum, "stop!! jangan lagi lanjutkan penjelasan yang hanya akan mental dan mental lagi dalam rasionalku. sudah aku anggap semua argumenmu adalah palsu! kasih sayang itu hanya topeng agar lukaku 'tidak begitu' nampak dan terasa. sudah aku anggap permainanmu terlalu skrenario dan kamu adalah aktor terlihai yang mampu memerankannya. picik! naif! aku muak!
kalau diteruskan, berapa kali aku tersenyum, entah berapa umpatan yang terlontar dalam senyum itu. senyumku, bukan hanya berarti 1, senyumku memiliki banyak makna yang enatah kapan ia sadari. hingga sampai nanti senyum ini mengering dan perlahan usang seiring dengan semua yang ia timpakan padaku.
miss_ayy
1.11.11 @sick room
Tidak ada komentar:
Posting Komentar